Pengalaman atau uang, kali ini saya akan menulis mengenai pengalaman atau uang.
Kenapa harus itu, ya karena memang itu yang mau saya sampaikan dalam tulisan.
Pertama-tama untuk sobat
semuanya, mungkin dua kata itu sudah tak asing lagi, apa itu pengalaman apa itu
uang. Kata yang mungkin hampir setiap hari keluar dari mulut orang tua, guru
atau abang maupun teman. Sama seperti yang sobat alami, tidak siang tidak
malam kata itu selalu terlintas. Tak hanya dari mulut orang lain tapi malam
dari mulut sendiri. Bahkan dikeluarkan tanpa sengaja, alias secara tiba-tiba.
Tapi sabar kawan, kali ini
kita berbicara sedikit lebih serius, sedikit untuk menelaah, sedikit untuk
merenung, sedikit untuk melihat ada apa dengan dua kata tersebut. Karena memang
kelemahan kita, yakni tak ingin merenung, tak ingin menelaah bahkan tak ingin
menganalisis dan yang paling penting tak ingin mengkaji. Apapun itu tidak hanya
pada hal-hal yang besar, tapi pada satu titik kecil jika dikaji dengan benar
maka akan timbul pemaknaan yang besar dan itu bermanfaat bagi kita.
Itu sudah ada firmannya lo,
ini contohnya,
“Dan barang siapa yang
mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan
menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan
keburukansebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.”
(Qs. Az-Zalzalah: 7-8).
Itu
jelas, sehingga sekecil-kecilnya kebaikan yang kita buat sudah dinilai oleh
Allah, apalagi jika hanya memiliki niat. Namun berbeda dengan keburukan,
meskipun baru dalam taraf niat maka akan diampuni Allah. Sehingga pantaslah kalau Allah Swt. sudah memberi ‘piala’ dalam bentuk
sebuah pahala untuk suatu niat baik walau belum terwujud dalam bentuk tindakan,
seperti sabda Rasulullah Saw.:
“Allah Azza wa Jalla
berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan, maka Aku
menulisnya satu pahala kebaikan baginya walau ia belum mengerjakannya, dan jika
ia mengerjakannya maka Aku menulisnya dengan sepuluh pahala kebaikan yang
serupa dengannya” (HR Muslim).
So, selanjutnya apa hubungan dengan judul di atas. Itu hanya
beberapa hal yang menyerempet sedikit mengenai hal-hal yang kecil kawan.
Sekecil apapun yang kita lakukan pasti memiliki nilai. Tak jarang nilai malah
lebih besar dari apa yang kita lakukan.
Sobat kenapa harus pengalaman dan uang. Begitu sobat, saat ini
di zaman yang serba modern semua bisa saja tersedia dengan singkat atau secara
instan. Terbiasa dengan pola seperti itu mengajar kita untuk hidup berpikir
singkat tanpa harus mengindahkan hal-hal kecil lainnya. Padahal tanpa disadari
itu merupakan satu hal yang terpenting dalam hidup ini.
Karena apa, sesuatu yang paling kecil menjadi penghantar
kehidupan yang besar. Banyak orang yang sukses karena beranjak dari hal yang
kecil. Mereka melihat hal kecil itu sebagai impian yang besar untuk diwujudkan.
Sobat, pengalaman itu mungkin kecil atau berbentuk sesuatu yang
tidak tampak. Bahkan bisa dikatakan tidak ada harganya, karena tidak ada
penetapan dan standar yang jelas menyatakan jika itu adalah pengalaman yang
berharga. Namun kawan jika kita belajar menghargai pengalaman itu maka itu akan
menjadi sesuatu yang besar. Menjadi sesuatu yang sangat bernilai, bahkan
melebihi uang yang ada di seluruh jagat raya ini.
Kawan, saya hanya mengajak semuanya untuk berpikir pengalaman
itu sesuatu yang istimewa dan sayang untuk dilewatkan. Lakukan apa pun itu
(sikap yang baik.red) karena kita ingin mengetahui, karena kita ingin mendapat
pengalaman, dan bukan karena uang. Karena apa, jika hal sederhana itu bisa kita
lakukan, apa yang kita dapatkan tidak akan pernah putus. Namun jika kita
melakukan sesuatu itu karena uang, semua akan putus di tengah jalan.
Kawan, tulisan ini kopi buat tanpan sengajat mendengar perkataan
singkat dari keluarga yang telah lama tak bêrtemu. Beberapa minggu yang lalu,
saat kopi (nama blog.red) mengantarkan titipan untuk orang tua di pangkalan
motor air. Tanpa sengaja atau memang sudah direncanakan Allah, kopi bertemu
dengan bibi, yang dulunya akrab disapa Mak Tua.
Obroloan singkat pun mengalir. Sampai akhirnya pada pertanyaan,
kopi saat ini bekerja dimana. Kopi jawab, di Metro. Mendengar kopi sudah bekerja,
Bibi minta dicarikan kerja untuk anaknya. Kopi pun menyanggupi permintaan
tersebut dan menawarkan pekerjaan yang kebetulan memang salah satu perusahaan
yang dikenal sedang mencari tenaga kerja.
Merasa ada tawaran, anak bibi bukan menanyakan persyaratan untuk
memasukan lamaran tapi bertanya berapa penghasilan yang diterima jika bekerja
pada perusahaan tersebut. Belum sempat kopi jawab, bibi langsung memotong
pembicaraan.
“Jangan tanya gaji, tapi cari pengalaman dulu.
Ketika ada pengalaman, itu akan sangat berharga dari uang. Karena
berbekal pengalaman bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” jawab
bibi.
Dari kalimat tersebut kawan, kopi berpikir jika
uang itu memang bernilai secara nyata, tetapi secara kasat mata hanya kertas
usang yang tak nilainya. Uang dan pengalaman memang suatu hal yang
berbeda. (@)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar