Akhirnya datang juga, seperti kata-kata yang dilontarkan presentar dalam
tayangan realiti show di salah satu stasiun TV swasta. Ku pikir, kata-kata itu
juga yang aku ucapkan ketika hari ini datang.
Hari dimana ketika
dunia lain menyapa keseharian hidup yang padat akan rotasi waktu yang tak
pasti. Hari dimana ketika seorang maling ayam terlepas dari kurungan waktu
dalam dunia besi yang tak pasti. Hari dimana saat aku mengatakan aku bebas.
Naif, itu kataku dan bukan kata mereka, bagaimana tidak. Aku mengatakan diri
naif, ya memang begitu apa adanya. Tak ada yang istimewa dengan hari itu, hanya
ada angan-angan belaka.
Rabu, 8 Desember 2010,
aku dan beberapa rekan jurnalis mengikuti pelatihan dari Bank BI. Rekan
jurnalis, mungkin bisa dikatakan seperti itu, sebagain yang hadir aku cukup
mengenal mereka, dan sebagain lagi aku tidak mengenal mereka. Hanya tahu
tampang tanpa mengetahui nama, mungkin bisa dikatakan kenal. Jujur saja, sebenarnya
aku bingung dengan pelatihan ini, untuk menunggu hari itu tiba saja, cukup
membuatku jengkel dan tak perlu aku ungkapkan disini. Kalau memang jujur
sebenarnya pelatihan ini tidak terlalu istimewa, aku hanya mengambil kesempatan
dari penjara waktu. Bela-belain untuk mempersiapkan semuanya. Aku juga tak
terlalu paham akan hal ini, jika bicara mengenai BI, kita mengenalnya dengan
Bank Indonesia. Pasti adanya jurnal, neraca, sistem inilah, sistem itulah,
bukannya tak suka tapi memang tak berbakat akan bidang itu. Disinilah posisi
kepasrahan ku hadir, yang penting dapat liburan, karena itu yang ku tuju. Mau
apapun itu aku tak ambil pusing. Tapi...tapi dan tapi...,,masih ada yang
terganjal, apa itu, tugas kantor. Dalam situasi seperti ini aku masih mendapat
tugas kantor, mungkin tugas ini bisa dikatakan ringan, tapi sekarangkan aku
dalam rangka liburan. Apapun alasannya tetap habis dimakan rayap, ya,,,maksud
ku tak akan berfungsi. Hanya satu saja pesan bos ketika aku berangkat, bangun
relasi dan cari kenalan dan dapatkan nomor Hpnya. Sayangnya aku tak seperti
matahari yang tak pernah mengeluh menyinari dunia ini. Sekarang aku hanya anak
kampung, yang punya rumah disudut, dan juga aku bukan orang yang istimewa.
Sepertinya aku harus bersyukur, karena mereka masih membutuhkan kau, dan rasa
itu melepaskan penat ku.
Pukul 18.00 Wib, aku
sampai di Sungai Pinyuh. Sebenarnya ini pemberhentian tak terduga dari bis yang
rombongan kami tumpangi. Bis ini berhenti karena memang permintaan ku, untuk
menunaikan sahalat maghrib. Dengan rendah hati, pemandu memberikan kami waktu untuk
berbicara dengan tuhan ku. Lebih senang lagi, ketika sebagian besar rombongan
juga ikut menunaikan shalat maghrib. Nexr time dilanjutin, mau tidur
dulu.. : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar