Halaman

Selasa, 27 Desember 2011

Singkawang

Akhirnya datang juga, seperti kata-kata yang dilontarkan presentar dalam tayangan realiti show di salah satu stasiun TV swasta. Ku pikir, kata-kata itu juga yang aku ucapkan ketika hari ini datang.

Hari dimana ketika dunia lain menyapa keseharian hidup yang padat akan rotasi waktu yang tak pasti. Hari dimana ketika seorang maling ayam terlepas dari kurungan waktu dalam dunia besi yang tak pasti. Hari dimana saat aku mengatakan aku bebas. Naif, itu kataku dan bukan kata mereka, bagaimana tidak. Aku mengatakan diri naif, ya memang begitu apa adanya. Tak ada yang istimewa dengan hari itu, hanya ada angan-angan belaka.


Rabu, 8 Desember 2010, aku dan beberapa rekan jurnalis mengikuti pelatihan dari Bank BI. Rekan jurnalis, mungkin bisa dikatakan seperti itu, sebagain yang hadir aku cukup mengenal mereka, dan sebagain lagi aku tidak mengenal mereka. Hanya tahu tampang tanpa mengetahui nama, mungkin bisa dikatakan kenal. Jujur saja, sebenarnya aku bingung dengan pelatihan ini, untuk menunggu hari itu tiba saja, cukup membuatku jengkel dan tak perlu aku ungkapkan disini. Kalau memang jujur sebenarnya pelatihan ini tidak terlalu istimewa, aku hanya mengambil kesempatan dari penjara waktu. Bela-belain untuk mempersiapkan semuanya. Aku juga tak terlalu paham akan hal ini, jika bicara mengenai BI, kita mengenalnya dengan Bank Indonesia. Pasti adanya jurnal, neraca, sistem inilah, sistem itulah, bukannya tak suka tapi memang tak berbakat akan bidang itu. Disinilah posisi kepasrahan ku hadir, yang penting dapat liburan, karena itu yang ku tuju. Mau apapun itu aku tak ambil pusing. Tapi...tapi dan tapi...,,masih ada yang terganjal, apa itu, tugas kantor. Dalam situasi seperti ini aku masih mendapat tugas kantor, mungkin tugas ini bisa dikatakan ringan, tapi sekarangkan aku dalam rangka liburan. Apapun alasannya tetap habis dimakan rayap, ya,,,maksud ku tak akan berfungsi. Hanya satu saja pesan bos ketika aku berangkat, bangun relasi dan cari kenalan dan dapatkan nomor Hpnya. Sayangnya aku tak seperti matahari yang tak pernah mengeluh menyinari dunia ini. Sekarang aku hanya anak kampung, yang punya rumah disudut, dan juga aku bukan orang yang istimewa. Sepertinya aku harus bersyukur, karena mereka masih membutuhkan kau, dan rasa itu melepaskan penat ku.


Pukul 18.00 Wib, aku sampai di Sungai Pinyuh. Sebenarnya ini pemberhentian tak terduga dari bis yang rombongan kami tumpangi. Bis ini berhenti karena memang permintaan ku, untuk menunaikan sahalat maghrib. Dengan rendah hati, pemandu memberikan kami waktu untuk berbicara dengan tuhan ku. Lebih senang lagi, ketika sebagian besar rombongan juga ikut menunaikan shalat maghrib. Nexr time dilanjutin, mau tidur dulu..  : )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar