Halaman

Selasa, 27 Desember 2011

Pacar Konyol

Pacar.......kata yang tak asing di telinga insan manusia, baik itu remaja, abg, dewasa, orang tua, bapak-bapak, ibu-ibu, dan semua yang intinya manusia. Bisa iya bisa tidak, hewan juga mempunya pacar atau bahasa kerennya kekasih atau girl friend. Pacar...ya...pacar...ya...
Kata ini sudah merambah dari anak-anak yang masih bau kencur dan orang yang sudah bau tanah. Semua pernah mengenal pacar dan namanya pacaran. Bila pacaran, dunia terasa indah, bumi serasa milik berdua, tak perdulikan kiri kanan. Intinya mengumbat kemesraan, ujung-ujungnya maksiat. Kasihan makluk Allah seperti ini. 
Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang berhubungan dengan pacaran, apapun itu, namun sedikit sulit ku ungkapkan, seperti ada yang mengganjal. Ku akui, memang aku tak punya pacar, eits,,,,tunggu dulu tanggapan negatif anda, bukan karena aku tak laku, tapi karena aku terlalu istimewa untuk dipacari orang sembarangan (narsis abis men.

Mulai dari tampang, lumayan masih bisa lulus standar UAN. Dari kantong, lewat, masih bisa belikan hadiah ultah buat doi. Soal motor, walau butut lumayanlah untuk mutar-mutar Kota Pontianak. Setidaknya aku ini lulus UAN, hehehehehe.... tapi kenapa nggak punya pacar...


Alasan pertama, kadang emang terbesit dipikiran punya pacar, ngiri juga dengan sebagian orang yang bermalam mingguan. Ada teman sharing, ada teman ngobrol saaat lagi sedih. Dari semua keluhan itu aku tarik kesimpulan, intinya tidak kesepian jika punya pacar. Tapi aku ini termasuk orang cuek sih, sedikit mengarah ke super cuek, hehe....bukan nggak peduli dengan makhluk yang namanya perempuan, gimana ya, aku kadang acuh tak acuh dan tak terlalu memperdulikan mereka.


Alasan keduanya, mungkin karena pekerjaan yang padat, ditambah target harus menyelesaikan studi. Kedua hal ini sudah cukup menjadi beban selama aku berada di Pontianak. Kalau berbicara ekonomi aku termasuk kelas menengah ke bawah. Orang tua ku hanya pensiunan perkebunan, selepas itu menjadi petani sayuran dan peternak ayam. Lahan yang pakai untuk usaha pun bukan lahan pribadi tapi lahan pinjaman dari saudara dan kenalan orang tua ku dan pastinya harus siap kapan saja diambil kembali dengan empunya. Mungkin lebih tepat alasan kedua ini karena tekanan ekonomi dan itu kenyataannya.


Ketiganya, berbicara standar perempuan yang harus menjadi pacar ku. Gerah juga sih aku menggunakan bahasa pacar. Aku hanya pengen punya pacar satu, terus mengarah ke jenjang yang lebih serius. Bukanya terlalu memilih, aku tak mau orang sembarang, setiap orang punya standar dan kualitas, aku lebih memilih kualitas ketimbang kuantitas, ini penting ke depannya. Mungkin ini yang memberatkan aku untuk mendapatkan sang kekasih.


Alasan ke empat, mungkin ini bisa dikatakan sebagai alasan yang klasik, trauma gitu deh. Aku bukan hanya satu kali pacaran, sudah terhitung sekitar lima atau enam kali. Artinya aku bukan anak kemarin sore yang baru mengenal namanya wanita, pacaran, ungkapkan perasaan, dan lain-lainya. Cuma memang dari setiap hubungan yang aku lalui diakhiri dengan rasa kegagalan. Bukan maksud ku untuk menyalahkan pasangan, tapi aku mencoba intropeksi diri, bukan aku bukan pasangan yang baik untuk mereka, hanya itu yang aku rasakan,this right.


Aku hanya mencobau untuk memperbaik kesalahan yang telah ku buat. Aku tidak mau hanya menyalahkan orang lain, meskipun apa yang mereka lakukan itu salah, aku tetap mengatakan kalau aku juga memiliki kesalahan. Untuk saat ini aku mencoba untuk memperbaikinya. Tq buat semua mantan pacar ku yang memberikan kesempatan ku untuk belajar dari kesalahan yang ada, semoga bahagia dengan pilihan kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar