Kata
ini sudah merambah dari anak-anak yang masih bau kencur dan orang yang sudah
bau tanah. Semua pernah mengenal pacar dan namanya pacaran. Bila pacaran, dunia
terasa indah, bumi serasa milik berdua, tak perdulikan kiri kanan. Intinya
mengumbat kemesraan, ujung-ujungnya maksiat. Kasihan makluk Allah seperti ini.
Hari
ini aku ingin menulis sesuatu yang berhubungan dengan pacaran, apapun itu,
namun sedikit sulit ku ungkapkan, seperti ada yang mengganjal. Ku akui, memang
aku tak punya pacar, eits,,,,tunggu dulu tanggapan negatif anda, bukan karena
aku tak laku, tapi karena aku terlalu istimewa untuk dipacari orang sembarangan
(narsis abis men.
Mulai
dari tampang, lumayan masih bisa lulus standar UAN. Dari kantong, lewat, masih
bisa belikan hadiah ultah buat doi. Soal motor, walau butut lumayanlah untuk
mutar-mutar Kota Pontianak. Setidaknya aku ini lulus UAN, hehehehehe.... tapi
kenapa nggak punya pacar...
Alasan
pertama, kadang emang terbesit dipikiran punya pacar, ngiri juga dengan
sebagian orang yang bermalam mingguan. Ada teman sharing, ada teman ngobrol
saaat lagi sedih. Dari semua keluhan itu aku tarik kesimpulan, intinya tidak
kesepian jika punya pacar. Tapi aku ini termasuk orang cuek sih, sedikit
mengarah ke super cuek, hehe....bukan nggak peduli dengan makhluk yang namanya
perempuan, gimana ya, aku kadang acuh tak acuh dan tak terlalu memperdulikan
mereka.
Alasan
keduanya, mungkin karena pekerjaan yang padat, ditambah target harus
menyelesaikan studi. Kedua hal ini sudah cukup menjadi beban selama aku berada
di Pontianak. Kalau berbicara ekonomi aku termasuk kelas menengah ke bawah.
Orang tua ku hanya pensiunan perkebunan, selepas itu menjadi petani sayuran dan
peternak ayam. Lahan yang pakai untuk usaha pun bukan lahan pribadi tapi lahan
pinjaman dari saudara dan kenalan orang tua ku dan pastinya harus siap kapan
saja diambil kembali dengan empunya. Mungkin lebih tepat alasan kedua ini
karena tekanan ekonomi dan itu kenyataannya.
Ketiganya,
berbicara standar perempuan yang harus menjadi pacar ku. Gerah juga sih aku
menggunakan bahasa pacar. Aku hanya pengen punya pacar satu, terus mengarah ke
jenjang yang lebih serius. Bukanya terlalu memilih, aku tak mau orang
sembarang, setiap orang punya standar dan kualitas, aku lebih memilih kualitas
ketimbang kuantitas, ini penting ke depannya. Mungkin ini yang memberatkan aku
untuk mendapatkan sang kekasih.
Alasan
ke empat, mungkin ini bisa dikatakan sebagai alasan yang klasik, trauma gitu deh.
Aku bukan hanya satu kali pacaran, sudah terhitung sekitar lima atau enam kali.
Artinya aku bukan anak kemarin sore yang baru mengenal namanya wanita, pacaran,
ungkapkan perasaan, dan lain-lainya. Cuma memang dari setiap hubungan yang aku
lalui diakhiri dengan rasa kegagalan. Bukan maksud ku untuk menyalahkan
pasangan, tapi aku mencoba intropeksi diri, bukan aku bukan pasangan yang baik
untuk mereka, hanya itu yang aku rasakan,this right.
Aku
hanya mencobau untuk memperbaik kesalahan yang telah ku buat. Aku tidak mau
hanya menyalahkan orang lain, meskipun apa yang mereka lakukan itu salah, aku
tetap mengatakan kalau aku juga memiliki kesalahan. Untuk saat ini aku mencoba
untuk memperbaikinya. Tq buat semua mantan pacar ku yang memberikan kesempatan ku
untuk belajar dari kesalahan yang ada, semoga bahagia dengan pilihan kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar